"Kaki kecilmu tidak akan cukup untuk menjatuhkanku!" teriak Kargo sambil memutar tubuhnya, melayangkan serangan ke sisi kiri Lynx.

Lynx yang telah memiliki kekuatan menjadi terlalu gesit. Meski belum dapat menggunakan kekuatannya dengan baik, dia masih mampu memanfaatkan kecepatannya. Ia melompat tinggi, mendarat di cabang pohon terdekat sebelum melompat lagi ke arah Kargo. Dengan gerakan cepat, ia menggunakan ujung tombaknya untuk menyerang titik lemah di punggung Kargo.

Kargo mengerang marah, tetapi serangan itu hanya membuatnya terhuyung sebentar. Ia berbalik, menebas dengan kekuatan besar yang hampir mengenai Lynx.

Lynx terus menyerang dengan kelincahan dan strategi, tetapi ia mulai menyadari bahwa kekuatan Kargo tidak bisa diremehkan. Pengalaman bertempur dan instingnya dari berbagai pertempuran menjadi salah satu keunggulan Kargo. Dalam satu momen, Kargo berhasil memblokir serangan Lynx, lalu memukul tombak Lynx hingga terlepas dari tangannya.

"Sekarang kau tidak bersenjata!" seru Kargo sambil tertawa keras.

Namun, Lynx tidak mundur. Ia mengepalkan tinjunya, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. "Aku tidak butuh senjata untuk mengalahkanmu."

Lynx berlari ke arah Kargo dengan kecepatan luar biasa, menyerang dengan pukulan ke arah dada pria besar itu. Kargo mencoba menangkis, tetapi kecepatan Lynx terlalu tinggi. Pukulan itu menghantam keras, membuat Kargo terhuyung beberapa langkah ke belakang.

"Kau akan jatuh, Kargo," ujar Lynx dengan suara rendah.

Kargo menggeram, menggunakan parang untuk menyerang lagi. Tapi kali ini, Lynx menghindar lebih cepat, menyerang lutut Kargo dengan tendangan keras. Kargo jatuh berlutut, parangnya tergenggam lemah.

"Kau selesai," ujar Lynx, mengambil tombaknya dari tanah dan mengarahkannya ke dada Kargo.

Namun sebelum Lynx bisa menyerang, Kargo mengeluarkan peluit kecil dari sakunya. Ia meniupnya keras, suara melengking memenuhi udara.

Kargo menggeram lebih keras. “Kau tidak akan menang dariku! Rasakan senjata terakhirku!”

Dari balik pepohonan, makhluk besar perlahan muncul. Tubuhnya dipenuhi duri-duri tajam yang panjang seperti tombak, matanya merah bersinar, dan kulit abu-abunya terlihat tebal seperti baja, memantulkan sinar matahari, dengan guratan merah menyala di setiap sisinya. Raungan keras yang keluar dari tenggorokannya mengguncang tanah, membuat burung-burung di pepohonan beterbangan.

Suara raungan meluncur ke udara, menembus kebisingan hutan. Para tawanan yang masih tersisa berhenti bernapas, menatap sekitar dengan panik. Leena memegang tali pengikatnya lebih erat, tubuhnya bergetar.

Leena terisak pelan, air matanya mengalir. “Lynx...”

Sherly, meskipun takut, mencoba terlihat kuat. “Dia akan baik-baik saja,” gumamnya. Tapi tubuhnya bergetar, dan genggaman tangannya tampak gemetar.

“Kau bisa mengalahkan anak buahku, tapi bagaimana dengan ini?” teriak Kargo sambil menunjuk makhluk itu.

Lynx menatap makhluk itu dengan tenang, meskipun napasnya sedikit lebih berat. “Hanya satu cara untuk tahu.”

"Serang dia!" Kargo memberikan perintah kepada makhluk itu. Dia kemudian berusaha memulihkan tenaganya sambil memperhatikan pertarungan.

Makhluk itu menyerang lebih dulu, cakarnya yang besar meluncur dengan kecepatan luar biasa ke arah Lynx. Lynx mencoba melompat ke samping, tetapi gerakan makhluk itu terlalu cepat. Cakar itu menyapu sisi tubuh Lynx, melemparkannya ke belakang hingga menghantam pohon dengan keras.

“Lynx!Tidak!” Leena berteriak, matanya membelalak ketakutan.

Sherly menggigit bibirnya, tubuhnya menegang. “Dia akan bangkit. Aku tahu dia akan bangkit,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri.

Lynx perlahan bangkit, mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Ia merasakan nyeri di seluruh tubuhnya, tapi anehnya rasa sakit itu tidak sebesar yang ia duga.

“Tubuhku... tidak terlalu sakit?” gumam Lynx sambil mencoba mengatur napas.

Ia mulai menyadari bahwa serangan makhluk itu tidak terlalu melukai tubuhnya seperti yang seharusnya. Energi dalam dirinya tampak melindungi tubuhnya.

Makhluk itu menyerang lagi, cakarnya menghantam tanah hanya beberapa inci dari tempat Lynx berdiri. Lynx melompat ke atas, mendarat di punggung makhluk itu, lalu menggunakan tombaknya untuk menghantam bagian belakang lehernya.

Makhluk itu meraung keras, tubuhnya berguncang liar, membuat Lynx kehilangan keseimbangan. Lynx terlempar ke tanah lagi, berguling beberapa meter sebelum berhenti.

“Aku... belum menguasai kekuatan ini,” pikir Lynx sambil berdiri lagi. Napasnya tersengal-sengal, tetapi ia memaksa tubuhnya untuk tetap bergerak. Meski kecepatan dan kekuatannya sudah jauh melebihi manusia pada umumnya, Lynx masih belum dapat menggunakan dengan baik, terutama bagaimana cara mengontrol energinya sehingga dia merasa cepat kehabisan tenaga.

Makhluk itu melompat ke arahnya, mencoba menyerang dengan cakarnya. Lynx menghindar dengan melompat mundur, tetapi salah langkah membuatnya terpeleset ke batang pohon yang tumbang. Cakar makhluk itu menghantam lengannya, membuat darah mengalir dari luka yang dalam.

“Argh!” Lynx berteriak, tetapi tetap menggenggam tombaknya dengan erat.

Leena menangis lebih keras. “Dia terluka! Lynx, hentikan!”

Sherly memandang Leena dengan sinis, meskipun ia juga takut. “Kalau dia menyerah sekarang, kita semua akan mati.”

Lynx melompat ke atas, menghindari serangan berikutnya dari makhluk itu. Ia mendarat di punggung makhluk tersebut, lalu menggunakan kekuatannya untuk menghantam bagian belakang leher makhluk itu.

Makhluk itu meraung kesakitan, tetapi tidak menyerah. Ia melompat, menjatuhkan Lynx dari punggungnya, lalu menyerang dengan cakarnya lagi. Kali ini Lynx menghindar dengan lebih cepat, tubuhnya bergerak dengan kelincahan yang luar biasa.

“Aku bisa melakukannya...” gumam Lynx sambil mengatur napas.

Melihat makhluk mutasinya kesulitan, Kargo berteriak marah. Dia menyerang Lynx dengan parang besarnya, bergabung dalam pertempuran. Ayunan parangnya sangat kuat, hampir tidak memberi Lynx waktu untuk bernapas.

Lynx mencoba memblokir serangan itu dengan tombaknya, tetapi kekuatan Kargo terlalu besar. Parang itu menghantam tombak Lynx, dan mematahkannya menjadi dua bagian.

“Kau terlalu lambat, bocah!” teriak Kargo, menyerang lagi dengan tebasan horizontal yang nyaris memenggal Lynx.

Lynx melompat mundur, mencoba mengambil jarak. “Kau mengandalkan kekuatanmu terlalu banyak. Itu membuatmu lambat.”

“Kau pikir kelincahan itu cukup?” ejek Kargo, menyerang lagi dengan tebasan vertikal.

Lynx menghindar, tetapi serangan itu menghantam tanah dengan keras, menciptakan retakan kecil. Lynx memanfaatkan celah itu untuk menyerang balik, menusukkan potongan tombaknya ke sisi tubuh Kargo.

Kargo mengerang marah, menendang Lynx hingga terlempar beberapa meter. Kemudian dia menyerang lagi dengan parangnya.

Lynx segera berkonsentrasi mengumpulkan kekuatan di kedua tangannya, lalu dia berbalik cepat, menangkap sisi tumpul parang Kargo dengan satu tangan. Mata Kargo melebar, tidak percaya.

“Kau terlalu lambat,” ujar Lynx sambil menarik parang itu dan menghantamkan gagangnya ke dada Kargo, lalu dengan cepat menebas dan mengenai dada Kargo sehingga terluka.

Kargo terjatuh ke tanah, terbatuk keras. Lynx memanfaatkan momentum itu untuk menghindari serangan makhluk mutasi yang kembali menyerang Lynx dari belakang. Cakarnya hampir mencengkeram tubuh Lynx, tetapi Lynx melompat ke atas, mendarat di punggung makhluk itu lagi. Kali ini, Lynx memfokuskan energinya ke parang yang sudah dirampasnya, menusukkan ujung tajamnya ke bagian belakang leher makhluk itu.

Makhluk itu meraung lebih keras, tubuhnya bergetar liar. Lynx menggenggam erat parangnya, mencoba bertahan dan menusukkan lebih dalam.

Kargo melihat kesempatan, Dia mengambil tombak yang ada didekatnya dan menyerang Lynx dengan tombak dari bawah. Serangannya nyaris mengenai kaki Lynx, tetapi Lynx melompat turun tepat waktu.

Lynx mendarat di depan Kargo, napasnya tersengal-sengal. “Aku belum selesai denganmu, Kargo.”

Kargo tertawa, meskipun darah menetes dari luka di tubuhnya. “Kau tidak akan menang, bocah. Aku punya kekuatan lebih besar daripada yang bisa kau bayangkan.”

Dengan satu serangan kuat, Kargo menghantamkan tombaknya ke Lynx yang tidak bersenjata. Senjata parang yang dibawa Lynx sebelumnya masih menusuk belakang leher makhluk itu. Lynx terhuyung, tetapi ia tidak menyerah. Ia menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menyerang dengan tangan kosong.

Lynx menyerang Kargo dengan serangkaian pukulan cepat ke titik-titik lemah tubuhnya, tetapi Kargo berhasil menahan sebagian besar serangan itu dengan tubuhnya yang besar.

Namun, dalam satu momen, Lynx melihat celah. Ia meluncur ke samping, meraih sebuah tombak dari tanah, lalu menyerang Kargo dengan tebasan kuat ke sisi tubuhnya.

Kargo terhuyung, darah mengalir deras dari lukanya. Ia mencoba menyerang balik, tetapi Lynx memanfaatkan kelincahannya untuk menghindar dan melancarkan pukulan terakhir ke kepala Kargo dengan gagang tombaknya.

Kargo jatuh ke tanah, tidak sadarkan diri.

Makhluk mutasi, yang terluka parah, dengan tendangan kuat ke kepala makhluk itu, Lynx menjatuhkannya ke tanah. Makhluk itu mengeluarkan raungan terakhir sebelum akhirnya tidak bergerak lagi.

Para tawanan bersorak, dan Leena serta Sherly berlari menghampiri Lynx.

“Kau berhasil!” teriak Leena sambil memeluk Lynx erat.

Sherly menatapnya, lalu meninju lengannya pelan. “Jangan pernah membuat kami khawatir lagi, bodoh.”

Aliah menarik lengan Lynx. “Bagaimana dengan Karim? Apakah dia selamat?”

Lynx tersenyum dan mengangguk. “Dia baik-baik saja. Aku akan membawamu kepadanya.”

Setelah makhluk mutasi itu roboh dengan raungan terakhirnya, para anggota Monrest yang masih hidup mulai melarikan diri. Beberapa melepaskan senjata mereka, menunjukkan niat untuk menyerah, sementara yang lain tetap mencoba bertahan dengan panik.

Lynx, meskipun kelelahan, berdiri tegak di tengah medan pertempuran. Matanya menyapu sisa-sisa pasukan Monrest yang tersisa, yang hanya berjumlah belasan. Dengan langkah mantap, ia bergerak mendekati mereka, tombak rampasan tergenggam erat di tangannya.

“Tidak ada seorangpun yang akan kubiarkan hidup!” teriak Lynx dengan suara keras, menggema di antara pepohonan. Lynx menyadari jika bersikap lunak terhadap musuh makan akan mencelakai diri sendiri. Lynx sudah melihat kekejaman mereka, dan sangat berbahaya jika mereka meminta bantuan. Setidaknya dengan membunuh mereka semua, Lynx memiliki kesempatan untuk mencari solusi menghadapi serangan mereka berikutnya.

Lynx lalu berusaha menyerap kekuatan yang ada disekitarnya, kemudian dengan gerakan cepat, dia mengambil busur panah dan menembakkan panah ke arah pasukan Monrest yang melarikan diri.

Beberapa prajurit Monrest yang telah menyerah, segera mengangkat tangan tanda menyerah setelah melihat rekan-rekannya terbunuh. “Kami tidak ingin melawan lagi! Kami menyerah!” seru salah satu dari mereka dengan nada gemetar.Namun, seorang pemuda tawanan, yang baru saja dibebaskan, tiba-tiba melangkah maju dengan mata penuh amarah.

Dia mengambil salah satu tombak dan membunuh para prajurit yang sudah menyerah.